HORAS....!
SELAMAT DATANG TUHAN MEMBERKATI

Minggu, 27 Februari 2011

MURTAD MENURUT IMAN KRISTEN


I.       PENDAHULUAN
Ada orang yang berpandangan bahwa orang beriman (orang Kristen) tidak bisa murtad. Benarkah demikian? Lalu untuk apa ada begitu banyak peringatan dalam Alkitab kepada orang beriman supaya jangan murtad? Hanya orang beriman yang bisa murtad, yaitu orang yang pernah mengenal kebenaran, yang pernah tinggal Roh Kudus dalam hatinya sebagai meterai keselamatan. Alkitab dengan keras memperingatkan supaya orang beriman tidak murtad. Untuk apa diperingatkan? Tentu saja karena ada resiko orang beriman untuk murtad bila tidak waspada. Alkitab dengan tegas memperingatkan bahwa orang beriman supaya jangan murtad. Karena Alkitab mengajarkan bila tidak waspada dan tetap tekun berbuat dosa maka orang Kristen (orang beriman) bisa saja murtad. Orang yang tidak memelihara imannya dan yang tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar akan hidup sembarang, maka lambat laun keinginan dunia ini akan memikat hatinya, sehingga “menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa” (Ibrani 3:13). Roh Kudus yang ada dalam hatinya terus menerus berduka-cita, berbicara melalui hati nuraninya untuk menginsafkan orang itu dari dosanya, namun karena mengeraskan hati, hati nurani nya menjadi tegar dan tumpul / bebal, sehingga bila ada pencobaan, ada kemungkinan orang ini menjadi murtad atau melepaskan imannya (I Timotius 1:19).Semoga Allah yang telah mengaruniakan anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus, mendapati kita tetap setia hingga akhir hidup kita masing-masing. Untuk itu, penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:

I.       Pendahuluan
II.    Pengertian Murtad
III. Murtad menurut agama Islam
IV. Murtad Menurut Iman Kristen
4.1. Murtad dalam Perjanjian Lama
4.2. Murtad dalam Perjanjian Baru
4.3. Murtad menurut bapa-bapa Gereja
4.4. Murtad menurut Reformator
4.5. Murtad menurut HKBP
V.    Analisa
VI. Relevansi
VII.Kesimpulan

II.    PENGERTIAN MURTAD
Kata murtad merupakan kata serapan bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia. Yang dalam bahasa Indonesia kata serapan ini diartikan sebagai orang yang meninggalkan agamanya dan berpindah ke agama lain. Dapat juga diartikan orang yang tersesat karena berpaling dari ajaran agama yang benar.[1] Dalam kamus Alkitab, murtad diartikan sebagai pengingkaran terhadap iman kepada Allah, yang dikemukakan baik dalam Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Lebih jelas lagi Paulus menegaskan murtad merupakan pemberontakan yang besar. Dalam Alkitab Apostasy merupakan kata yang dipakai untuk menyebut orang yang meninggalkan iman serta meninggalkan juga komunitas orang-orang beriman (band. Yer. 2:19). Dalam Iman Kristen, seseorang yang dibabtis, dikatakan murtad kalau ia dengan bebas dan seutuhnya meninggalkan iman. Dengan demikian, murtad bukan hanya terkait berbalik dari satu ke yang lain, namun mencakup hal-hal yang tercakup di dalamnya termasuk komunitas atau perkumpulan orang-orang beriman. [2]
Konsekuensi murtad agama dan moral muncul dan ini dikatakan sebagai  dosa. Dalam Yunani klasik, pemberontakan ditandai murtad dari seorang komandan militer. Dalam Gereja Katolik Roma, itu menandakan meninggalkan perintah agama; penolakan otoritas gerejawi; pembelotan dari iman. Penganiayaan dari abad Kristen awal banyak dipaksa untuk menyangkal pemuridan Kristen dan untuk menunjukkan kemurtadan mereka dengan menawarkan dupa bagi dewa kafir atau menghujat nama Kristus. Dan pembelotan murtad dari iman mungkin intelektual atau mungkin moral dan spiritual.[3]

III. MURTAD MENURUT AGAMA ISLAM
Menurut islam, orang murtad orang yang beriman kepada Allah dan kemudian kafir dengan sukarela. Atau dengan kata lain dia menjadi Kafir sesuai dengan pilihannya sendiri. Dia yakin, meninggalkan imannya.[4] Murtad Dalam agama Islam merupakan masalah yang besar dan sensitif. Murtad boleh berlaku tidak hanya mengucapkan kalimat kufur saja tetapi dengan berbagai cara yang kadangkala tanpa disadari oleh pelakunya. Menurut agama Islam, ada empat hal yang dapat menyebabkan Murtad. Pertama, disebabkan kepercayaan (murtad I’tiqadi), yang artinya adalah apabila seseorang itu mempercayai sesuatu dengan ia membenarkan kepercayaan tersebut dalam hatinya, selain itu murtad yang disebabkan kepercayaan adalah karena mempercayai alam yang bersifat azali dan alam maya tanpa wujud pencipta, yang mengaku ada tuhan selain Allah atau Allah mempunyai pembantu di dalam kekuasaan-Nya, mengambil perantara dirinya dengan Allah dan berdoa kepadanya, mempercayai orang yang mengaku dirinya nabi setelah nabi Muhammad S.A.W. Kedua, disebabkan perkataan (murtad qwli), yang dikatakan murtad karena perkataan adalah; perkataan yang menyebabkan orang kafir, perkataan yang mengandung celaan dan hinaan terhadap Allah, semua perkataan yang tidak sepatutnya diucapkan kepada Allah atau agamanya atau rasulnya. Ketiga, disebabkan perbuatan (murtad fi’li) yaitu, pemujaan terhadap sesuatu seperti pantai, pohon, kubur, bukit, dll. Selain itu, seseorang yang sengaja melalui perbuatan mengaku hendak keluar dari Islam, dengan perbuatan mencela agama Islam, serta siapa dengan perbuatan mencela Qur’an. Dan keempat, karena meninggalkan sesuatu. Yaitu, mereka yang meninggalkan sesuatu perbuatan yang pada akhirnya menyebabkan pengingkaran atau penolakan secara nyata untuk tidak mempercayai Islam lagi. [5]


IV. MURTAD MENURUT IMAN KRISTEN
Berbicara tentang murtad menurut Kristen, tentu muncul pertanyaan apakah orang beriman dapat Murtad? Di dalam perumpamaan pokok anggur Tuhan Yesus senantiasa mengingatkan kepada muridNya, supaya mereka tetap di dalam Tuhan. Hal itu perlu sekali agar supaya mereka tidak dibuang keluar dan menjadi kering. Mereka hanya dapat tetap di dalam Kristus, jikalau mereka menuruti segala perintahNya (Yoh. 15:6,7,14). Demikian juga halnya dengan Rasul Paulus, yang memberikan peringatan, supaya siapa yang menyangka dirinya teguh berdiri, berhati-hati jangan sampai jatuh (1 Kor. 10:1,6,11). Demikian juga di dalam suratnya yang kepada jemaat di Roma Paulus mengingatkan para orang beriman supaya janganlah mereka bermegah, supaya janganlah mereka dibuang oleh Tuhan Allah, seperti halnya dengan Israel (Rm. 11: 18,20,21). Alkitab juga menunjukkan adanya orang beriman yang jatuh, seperti Pilatus, Demas, dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah peringatan supaya orang beriman tetap berada dalam keselamatan dan hidup dari keselamatan itu. Dengan mengingat akan segala peringatan itu orang beriman akan dapat berjalan dekat dengan Tuhan Allah. Beriman berarti, bahwa setiap hidup orang harus diarahkan kepada keselamatan pemberian Tuhan Allah. Keselamatan itulah yang tetap, pasti, tidak berubah, tidak goyah. Maka orang beriman diperingatkan supaya tetap tetap berada di dalam keselamatan. Ada beberapa godaan yang akan berusaha menjatuhkan orang beriman.[6]

4.1. Murtad dalam Perjanjian Lama
Sejarah Perjanjian Lama adalah sejarah tentang jatuh bangunnya umat Allah. Israel sering murtad dan dihukum Tuhan, lalu bertobat dan diselamatkan oleh-Nya. Kemuadian Israel kembali murtad dan kembali di hukum, demikian seterusnya. Dengan kata lain dapat dikatakan dalam perjalanan Israel yang digambarkan dalam Perjanjian Lama mengalami kegagalan dalam panggilan serta tugas yang dipercayakan Allah kepadanya, itulah yang dikatakan Murtad. Namun, dari semuanya itu, terdapat juga pribadi-pribadi dalam diri umat Israel yang setia melakukan pekerjaan Allah.[7] Dalam perjalanan bangsa Israel dalam perjanjiannya dengan Allah, dapat dilukiskan terdapat ketidak setiaan Israel terhadap panggilan Allah, yang berulang-ulang Allah jalankan untuk memimpin umat. Dalam Perjanjian Lama, murtad sangatlah jelas digambarkan melalui sebuah konsep, yaitu Israel murtad- Israel dihukum – Israel bertobat- Israel diselamatkan, dimana siklus itu berulang-ulang. Dalam Perjanjian Lama, murtad itu dipandang sebagai orang yang menjual dirinya, kepada ilah-ilah kafir. Menurut kitab para Nabi, Allah adalah kasih dan setia. Menurut kitab Nabi, kelak Allah akan mengaruniakan kepada umat-Nya yang tidak setia dan yang murtad suatu hati dan batin yang baru (Yer. 31:33; band. Mzm. 51:12) dengan tujuan supaya tidak ada lagi murtad dalam perjalanan Israel, atau untuk menobatkan yang akan bertobat dan kembali kepada-Nya.[8]

4.2. Murtad dalam Perjanjian Baru
Kemurtadan (Yunani: "apostasia") dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda dalam 2 Tesalonika 2:3 dan di dalam Ibrani 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yunani: aphistemi; dalam versi lain diterjemahkan sebagai "berbalik dari"). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti. Dalam Perjanjian Baru, murtad lebih jelas dibahas dalam surat Ibrani. Dimana dikatakan bahwa murtad merupakan dosa yang sangat serius. keyakinan penulis surat Ibrani ialah, jika menurut Perjanjian Lama murtad merupakan suatu hal yang terkutuk, maka kini karena Yesus Kristus telah datang maka murtad dipandang sebagai hal yang sangat mengerikan. Alasannya, murtad menginjak-injak Kristus di bawah kaki. Murtad tidak hanya pemberontakan melawan hukum, tetapi juga tindakan melukai kasih.[9]
Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya. Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru, dan pembaharuan melalui Roh Kudus (bandingkan dengan Lukas 8:13; Ibrani 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin  Perjanjian Baru oleh mereka yang belum diselamatkan di dalam jemaat. Kemurtadan mungkin meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan:
·         Kemurtadan teologis, yaitu: menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan para rasul (1 Timotius 4:1; 2 Timotius 4:3), dan
·         Kemurtadan moral, yaitu: seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak 
dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (Yesaya 29:13; Matius 23:25-28; Roma 6:15-23; 8:6-13).[10]
4.3. Murtad menurut Bapa-bapa Gereja
Tertulianus, yang dikenal dengan Bapa Teolog Latin. Karya Tertulianus yang terbesar dan terpanjang adalah kelima jilid bukunya yang berjudul adversus Marcionem (melawan Marcion). Dimana Marcion adalah orang murtad terbesar pada abad ke-2. Marcion murtad karena memadukan Gnostisisme dengan kekristenan menurut Rasul Paulus. Yang dianggap membuat orang murtad menurut Tertulianus adalah filsafat Yunani, yang pada akhirnya disebut sebagai sumber ajaran sesat. Ia menekankan sifat paradoksial dari iman dan kontras antara agama dan filsafat. Namun hal ini jangan disalah tafsirkan. Di sisi lain, ia dapat mendasarkan diri pada unsur-unsur filsafat Yunani yang sesuai dengan agama Kristen. Senada dengan Tertulianus, Clemens menunjukkan, bahwa orang dapat saja menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan filsafat dan intelek tanpa menjadi seorang yang murtad.[11]
Pada pertengahan abad ke-3 Cyprianus meninggalkan pola hidup lamanya setelah masuk menjadi Kristen. Dengan semboyannya, “dengan kelahiran kedua ini telah menciptakan manusia baru dalam diri saya, dengan hembusan roh dari surga”. Sebagai mantan guru retorika ia mampu menanjak karir sampai menjadi Uskup Kartago sekitar tahun 248. Hal yang paling ditekankan Cyprianus adalah kesatuan gereja. Pada saat itu, banyak Kristen yang murtad akibat tindakan Kaisar Romawi Decius yang menganiaya orang-orang Kristen, sehingga muncul penyangkalan iman oleh orang-orang kristen. Kaisar tidak menginginkan mereka untuk mati martir, karena hal itu akan menarik perhatian semua dunia Kristen. Tetapi, ia menyiksa orang Kristen dengan harapan bahwa mereka akan mengakui bahwa Kaisarlah Tuhan. Itulah orang-orang yang Murtad. Namun, orang-orang yang tetap bertahan merupakan pengikut setia, dimana pengikut setia ini memandang rendah orang-orang murtad. Itulah perpecahan yang dimaksudkan oleh Cyprianus. Walaupun Cyprianus tidak mengalami penyiksaan karena imannya, ia tidak setuju akan perpisahan yang terjadi diantara orang-orang Kristen. Pada tahun 251 Cyprianus mengadakan konsili di Kartago dan di situlah ia membacakan naskah Persatuan di dalam Gereja, yang terkenal dan berpengaruh dalam sejarah gereja. Pada tahun 258 ia harus meninggal untuk mempertahankan imannya. Diamana, pada saat itu ia mengalami penyiksaan dari Kaisar velerianus karena tidak mau melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepalanya dipenggal. Namun, gereja tetap berpegang pada kesatuan gereja yang ia cetuskan.[12]
Sementara itu, pada tahun 249 dalam pemerintahan Decius merupakan tahun bertuah untuk Romawi, dimana itulah ulang tahun ke seribu bagi kota itu. Decius memandang kemerosotan dalam pemerintahan ada hubungannya dengan gereja. Oleh karena itu, Decius melakukan serangan terhadap gereja. Tujuan utamanya adalah bukan untuk membunuh orang, melainkan untuk membuat warga gereja murtad. Oleh karena itulah cara kekerasan digunakannya. Akibatnya terjadi perpecahan dalam gereja.[13]
4.4. Murtad menurut Reformator
Untuk Marthin Luther, jaminan keselamatan pribadi dapat diketahui oleh setiap orang percaya melalui sidang Allah. Luther telah mengambil sikap yang kuat terhadap kehendak bebas, namun kedua, Luther dan penerusnya berpendapat bahwa adalah mungkin bagi seorang Kristen untuk jatuh jauh melalui ketidakpercayaan. Dia mengakui bahwa bahaya kemurtadan mempengaruhi perjalanan Kristen dan bahwa tidak ada ruang untuk rasa percaya diri. Orang-orang percaya dibenarkan oleh iman saja (sola fide), dan mereka diakui sebagai Justus Simul et peccator (orang yang adil dan orang berdosa), namun orang murtad mampu sepenuhnya tidak memikirkan keadaan orang benar. Luther menulis tentang orang percaya, "bahkan jika ia mau, dia tidak bisa kehilangan keselamatan, namun banyak ia berdosa, kecuali ia menolak untuk percaya. Untuk dosa tidak dapat condemm dia menyimpan ketidakpercayaan sendirian. "Tetap preseverance Final-orang Kristen pasti aman di dalam Kristus tetapi mereka tidak aman dalam diri mereka sendiri.[14]
Yohanes Calvin mengatakan Allah menilai persekutuan gereja begitu tinggi, sehingga orang yang menghindari dari suatu perkumpulan orang Kristen, yaitu yang memelihara pelayanan Firman dan Sakramen-sakramen yang benar, dianggap sebagai orang yang pelarian atau dikenal dengan Murtad. Persekutuan gereja tidaklah boleh ditolak. Jangan karena ada perbedaan kecil saja dalam gereja menyebabkan murtad. Dengan memperbaiki yang salah, maka kita bertindak sebagai kewajiban kita terhadap Allah. Menjalankan sejarah gereja haruslah dengan aman dan tertib. Janganlah sampai murtad (meninggalkan gereja) namun tinggallah di dalamnya dengan tertib dan damai.[15] Yohanes Calvin melihat reformasi sebagai suatu pembenaran dan pengetahuan tentang keselamatan pribadi, tetapi ia juga berpendapat bahwa mereka yang percaya dan terpilih akhirnya akan melestarikan dan bisa diselamatkan. Pada akhirnya didasarkan pada predistinasi dan pemilihan. Dalam keputusan kekal Allah, Tuhan memberikan pengertian untuk hidup kekal dan orang lain untuk hukuman kekal. Bagi Calvin, ayat-ayat Alkitab pada kemurtadan ditemukan dalam Ibrani (6:4-6, 10:26-29) yang diterapkan pada subjek berdosa terhadap Roh Kudus. Dosa yang tak terampunkan bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu di dalam gereja dan dengan demikian mengekspos mereka sebagai orang murtad dan memiliki iman palsu. Tuhan menggunakan rasa takut murtad pada  akhirnya agar dapat melindungi orang percaya sejati menentangnya. Hanya orang-orang yang mengabaikan ancaman tersebut berada dalam bahaya nyata murtad. Hal ini dimungkinkan untuk orang percaya memilih untuk jatuh jauh dari rahmat Allah sementara, tetapi jika orang itu benar-benar terpilih, dia akhirnya akan dikembalikan.[16]
4.5. Murtad menurut HKBP
Dalam perangkat HKBP tidak ada secara jelas yang membahas tentang murtad. Namun, dalam RPP HKBP penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut; seseorang dalam HKBP yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah, tidaklah dikatakan langsung murtad. Namun, orang yang demikian terlebih dahulu ada langkah-langkah, seperti mengingatkan, membimbing, dan lainnya. Namun, jika hal itu tidak didengarkan lagi, maka dapat disimpulkan bahwa dia tidak lagi teman persekutuan di dalam gereja atau dengan kata lain murtad berbalik dari Allah. Segala yang berkaitan dengannya dalam gereja tidak akan dilayani lagi. Dalam Konfessi HKBP juga ditegaskan, bahwa HKBP hanya mempercayai Allah yang maha kuasa, yang keberadaannya tidak terselami, dan tidak berubah. Dengan demikian Allah senantiasa dekat, campur tangan, bekerja, mengatur dan menghakimi kehidupan orang di seluruh dunia. Karena itu, hanya Allah saja yang disembah, yang dipercayai, yang dituruti. Orang yang berpaling dari keyakinan itu, merupakan orang yang murtad.[17]

V.    ANALISA
Sekarang ini, banyak orang Kristen yang ditekan, ditindas, difitnah. Tentu sakit rasanya mengalami hal tersebut. Namun, perlu diketahui hal tersebut  tidak mampu mengalahkan orang beriman dengan membuatnya menderita. Di satu sisi, untuk membuat iman orang lemah adalah dengan cara dibuai, terleda dan sebagainya. Tetapi berbeda dengan penderitaan. Contoh nyata adalah Ayub, pengalaman gereja di mula-mula pun bisa menjadi contoh. Mereka menderita, dikejar, dianiaya bahkan sampai dibunuh. Ada sebagian yang pada akhirnya kalah dan menjadi murtad. Penderitaan tidak pernah mampu mengalahkan iman.[18] Seluruh Alkitab beridiri di atas satu dasar yang kokoh: bahwa hanya ada satu Allah. Orang yang murtad percaya kepada allah-allah lain, dimana allah lain itu diakui sungguh ada dan disembah. Tidak ada satupun di dalam Alkitab diluar pemeliharaan Allah. Dapat ditegaskan, bahwa tidak ada pemeliharaan yang lain, kecuali Allah.[19]
Murtad sulit dibedakan dengan pemberontakan. Namun yang pasti, dan pernyataan bahwa hal ini terjadi harus menunjukkan bahwa apa yang diperkirakan di sini adalah murtad yang mengarah kepada Parousia. Akhir klimaks sebelum akhir zaman. Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa kemurtadan ini akan menjadi intensifikasi dan puncak dari pemberontakan yang sudah dimulai. Fakta Tanda disebut murtad menyiratkan bahwa ini akan menjadi pemberontakan terhadap iman Kristen seperti yang telah mendengar atau dianut. Karena itu kita dapat berasumsi bahwa mereka yang murtad akan setidaknya luar yang terkait dengan umat Allah. kemurtadan akan terjadi dalam jajaran anggota gereja yang kelihatan.[20]
Dalam perjalanan sejarah gereja di Indonesia, seperti di Ternate 1557, terdapat juga upaya untuk membuat penganut Kristen murtad. Orang-orang Hitu yang diperkuat pasukan dari Jawa membakar kampung-kampung Kristen dan memaksa penduduknya untuk murtad. Namun, dibalik itu, bukanlah pertentangan Islam dan Kristen namun sebagai perselisihan politik antar daerah itu. Walaupun demikian, orang-orang Kristen ketika itu berhasil mempertahankan diri.[21]
Analisa pribadi penulis, dalam perjalanan sejarah gereja sekarang, jika dibandingkan ke dalam perjalanan sejarah gereja sebelumnya, murtad tidak lagi merupakan permasalahan yang dihadapi agama-agama, terkhusus orang Kristen. Namun, walaupun demikian tetap juga terjadi murtad dalam sejarah gereja sekarang ini. Hanya saja perlu diketahui, jika dahulu seseorang murtad adalah karena orang lain (misalnya karena penindasan, ajaran, dll), sekarang ini murtad itu lahir dari diri sendiri (misalnya karena pernikahan). Menurut penulis, hal ini karena pluralitas yang sudah dijunjung tinggi oleh masing-masing agama.

VI. RELEVANSI
Dalam perjalanan kehidupan sejarah gereja, tentunya banyak pergumulan dan tantangan yang dihadapi. Gereja mengalami penindasan, supaya umat tidak lagi percaya kepada Tuhan, dan menyangkal imannya sendiri. Tidak hanya sekedar penindasan, tetapi juga sampai kepada tindakan fisik yang menciderai serta melukai umat Tuhan untuk murtad. Demikian juga yang kita alami baru-baru ini, terjadi penindasan kepada jemaat HKBP dalam bentuk penyangkalan akan kebebasan umat beragama, dengan dilarangnya beribadah. Apakah dibalik semuanya itu, pihak-pihak tertentu menginginkan supaya jemaat itu berpaling dari Tuhan? Atau ada hal apa dibalik itu semua. Sementara pluralitas katanya dijunjung tinggi di negeri ini. Namun, walaupun seperti itu jemaat HKBP haruslah tetap teguh dalam pendiriannya, tanpa perduli akan tindangan orang lain yang ingin memiliki kepntingan tersendiri. Terlebih HKBP yang akan mencapai Jubileum 150 Tahun, supaya menjadi gereja yang menjadi berkat bagi semua orang dan semua bangsa serta menjadi gereja yang Inklusif, dialogis serta terbuka.
Disisi lain, pembahasan tentang Murtad akan mengarah kepada dialog antar umat beragama atau pluralitas. Setiap agama percaya bahwa Allah adalah Maha Kuasa, Maha Murah, dan Maha Pengasih. Artinya, bahwa Ia adalah Allah yang tidak menghendaki kebinasaan manusia. Maka Allah senantiasa member kesempatan kepada manusia supaya bertobat. Hamper setiap agama mengajarkan bahwa Allah menghendaki keselamatan manusia hanya dapat diketahui jika Allah sendiri memberitahukannya kepada manusia. Pemberitahuan ini dalam agama Kristen disebut penyataan (Revelation) sedangkan dalam agama Islam disebut Wahyu. Dari diskusi tersebut yang hendak dicapai adalah sikap mawas diri agama-agama. Artinya, kita menjauhkan diri dari suatu sikap fanatisme, yang tidak melihat bahwa ada kekuarangan pada agama kita dan ada kelebihan pada agama yang lain. Kita harus waspada agar kita tidak terjerumus ke dalam upaya-upaya rekayasa dangkal, yang akhirnya akan merugikan integritas agama, dan memperlemah kesatuan umat manusia. Sebab hanya orang-orang yang mempunyai keprihatinan, pengharapan, dan beriman yang akan saling bertemu dengan agama lain. Yang mana, pertemuan tersebut yang akan memperkokoh kesatuan umat manusia.[22]

VII.KESIMPULAN
·         Murtad adalah orang yang meninggalkan agamanya dan berpindah ke agama lain. Dapat juga diartikan orang yang tersesat karena berpaling dari ajaran agama yang benar
·         Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya.
·         Murtad Dalam agama Islam merupakan masalah yang besar dan sensitif.
·         Dalam perangkat HKBP tidak ada secara jelas yang membahas tentang murtad.
·         Murtad ada dua jenis : kemurtadan teologis, kemurtadan moral
·         Murtad akan mengarah kepada dialog antar umat beragama atau pluralitas.









DAFTAR PUSTAKA
Abineno,J.L. Ch.
2008                Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen, Jakarta (BPK Gunung
 Mulia)
Ariarajah,Wesley
2003                Alkitab dan Orang-orang yang Berkepercayaan Lain, Jakarta
 (BPK Gunung Mulia)
Badudu,J.S. 
2003                Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia,  Jakarta
                        (Penerbit Buku Kompas)
Barclay, William
2008                Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Bromiley,Geoffrey W
1915                The International Standard Bible Encyclopedia: A-D, Michigant
 (Wm. B. Eerdmans Publishing Co.)
Browning, W.R.F
2008                Kamus Alkitab, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
C, Ira
2001                Semakin Dibabat Semakin Merambat, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Calvin, Yohanes
Institutio; Pengajaran Agama Kristen, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Collins, Gerald O’ dan Edward G. Farrugia
1991                Kamus Teologi, Yogyakarta (Kanisius)
Curis,A. Kenneth dkk.,
2007                100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta (BPK Gunung
 Mulia)
Darmaputera, Eka
2008                Iman: Menjawab Pertanyaan, Mempertanyakan Jawaban, Jakarta
 (BPK Gunung Mulia)
Dister,Nico Syukur
1991                Pengantar Teologi,  Jakarta (BPK Gunung Mulia)


End, Th. van den
2007                Ragi Carita 1; Sejarah Gereja di Indonesia th. 1500-1860-an,
 Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Hadiwijono,Harun
2009                Iman Kristen, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Hoekema,Antony A
1994                The Bible and The Future, Michigant (Wm. B. Eerdmans Publishing
 Co.)
Lane, Tony
2007                Runtut Pijar; Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta (BPK Gunung
 Mulia)
Oropeza, B.J.              Paul and Apostasy; Eschatology, Perseverance, and Falling Away,
 Jerman (J.C.B. Mohr Tubingen)
Rosman, Arieff Salleh
2003                Murtad Menurut Perundangan Islam, Malasya (Cetak Ratu SDN.
 BHD)
Tharsyah, Adnan
2004                Madza Yuhibbuhullahu wa Yabghadhuhu (Manusia yang Dicintai
 dan Dibenci Allah), Kairo (Maktabah Ubaikan)
Yewangoe,A.A.
2002                Iman, Agama, dan Masyarakat dalam Agama Pancasila, Jakarta
 (BPK Gunung Mulia)


Sumber lain:
Skycentro,dalamhttp://www.inchrist.net/blog/misi/kemerdekaan_mutlak_atas_dosa_resep_anti_murtad

Dokumen HKBP dalam www.hkbp.or.id


[1] Lih. J.S.  Badudu, Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2003: hlm. 236.
[2] Lih. W.R.F. Browning, Kamus Alkitab (terj. Liem Khiem Yang dan Bambang Subandrijo), BPK Gunung Mulia, Jakarta 2008: hlm. 277. Serta band. Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (A Concise Dictionary of Theology), Kanisius, Yogyakarta 1991: hlm. 210
[3] Geoffrey W. Bromiley, The International Standard Bible Encyclopedia: A-D, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., Michigant 1915: hlm. 192.
[4] Lih.  Adnan Tharsyah, Madza Yuhibbuhullahu wa Yabghadhuhu (Manusia yang Dicintai dan Dibenci Allah) terj. Vivi Sofia Anita, Maktabah Ubaikan, Kairo 2004: hlm. 284.
[5] Lih. Arieff Salleh Rosman, Murtad Menurut Perundangan Islam, Cetak Ratu SDN. BHD, Malasya 2003: hlm. 20-31.
[6] Lih. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm. 415-418.
[7] Lih. Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991: hlm. 47-48.
[8] Lih. J.L. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2008: hlm. 83-85.
[9] Lih. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari (terj. S. Wismoady Wahono), BPK Gunung Mulia, Jakarta 2008: hlm. 167.
[10]Lih.Skycentro,dalamhttp://www.inchrist.net/blog/misi/kemerdekaan_mutlak_atas_dosa_resep_anti_murtad, dikunjungi, Senin 11 Oktober 2010, pukul 21.20.
[11] Lih. Tony Lane, Runtut Pijar; Sejarah Pemikiran Kristiani, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2007: hlm. 11,14.
[12] Lih. A. Kenneth Curis, dkk., 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen (terj. A. Rajendran), BPK Gunung Mulia, Jakarta 2007: hlm. 14-15.
[13] Lih. Ira, C, Semakin Dibabat Semakin Merambat, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001: hlm. 71-72.
[14] Lih. B.J. Oropeza, Paul and Apostasy; Eschatology, Perseverance, and Falling Away, J.C.B. Mohr Tubingen, Jerman 2000: hlm. 13-14. Band. Martin Luther, Works of Martin Luther Vol. V: hlm. 86
[15]  Lih. Yohanes Calvin, Institutio; Pengajaran Agama Kristen (terj. J.S. Aritonang, dkk), BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999: hlm. 234-235.
[16] Oropeza, Op.Cit., hlm. 15
[17] Lih. Dokumen HKBP dalam www.hkbp.or.id, dikunjungi Senin 11 Oktober 2010, pukul. 20.35.
[18] Band. Eka Darmaputera, Iman: Menjawab Pertanyaan, Mempertanyakan Jawaban, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2008: hlm. 55.
[19] Band. Wesley Ariarajah, Alkitab dan Orang-orang yang Berkepercayaan Lain (terj. Eka Darmaputera), BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003: Hlm. 1,3.
[20] Lih. Antony A. Hoekema, The Bible and The Future, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., Michigant 1994: hlm. 153.
[21] Lih. Th. van den End, Ragi Carita 1; Sejarah Gereja di Indonesia th. 1500-1860-an, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2007: hlm. 61.
[22] Lih. A.A.Yewangoe, Iman, Agama, dan Masyarakat dalam Agama Pancasila, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002;  24-25

2 komentar:

  1. maaf saya mau tanya , misalkan ada orang yang tertarik ke ajaran agama lain lalu ia padsa masa tua memilih untuk kembali ke agama kristen lagi? ( saya sendiri)
    apakah termasuk murtad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus